Sentuhan Kasih 14 September 2021: Menang Dari Kekhawatiran

Pesta Salib Suci

Bacaan I: Bil 21:4-9
Mazmur: Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38
Bacaan II: Flp 2:6-11
Bacaan Injil: Yoh 3:13-17

Kekhawatiran menjadi salah satu hal yang menghantui kita di saat pandemi ini. Banyak hal yang sering kali membuat kita mudah untuk menjadi khawatir, di antaranya permasalahan ekonomi dan masalah kesehatan. Bacaan pertama hari ini mengungkapkan kekhawatiran Bangsa Israel akan masa depan. Mereka khawatir bahwa mereka dikirim oleh Tuhan ke padang gurun untuk binasa. Makanan yang ada sangat terbatas! "Mengapa kita harus mendengarkan Musa? Mengapa kita harus mengikuti perintah Tuhan? Lebih baik kita di Mesir saja, bisa makan kenyang meskipun harus berjerih payah!" Mungkin itulah yang mereka pikirkan.

Saya berpikir betapa payahnya Bangsa Israel sampai bertanya-tanya seperti itu. Coba saja kalau mereka tidak khawatir, mereka tidak perlu melintasi padang gurun selama empat puluh tahun. Sambil diam sejenak, saya tertawa-tertawa sendiri. Ah, saya pun sama seperti mereka! Bedanya, saya khawatir akan masa depan saya, akan perekonomian saya, bahkan setiap hari! Kalau boleh dibilang, sikap khawatir adalah sikap yang manusiawi, karena jujur saja kita tidak tahu masa depan kita bentuknya seperti apa. Akan tetapi, tiba-tiba saya ingat perkataan Sudjiwo Tedjo, "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan." Jujur saja saya tertampar! 

Kehadiran Yesus dalam dunia ini dapat dikatakan sebagai lambang dari eksodus yang baru. Eksodus yang lama adalah Bangsa Israel yang keluar dari penjajahan Mesir, dan eksodus yang baru adalah Yesus yang membebaskan semua manusia dari "penjajahan" maut. Ada banyak bukti yang melambangkan kemiripan kedua eksodus ini. Menurut saya, eksodus yang kedua memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bisa jadi karena sampai detik itu Bangsa Israel belum peka terhadap makna eksodus, dan masih berpuas diri untuk dikuasai oleh dosa. Tuhan seolah-olah memerintah pada eksodus pertama, tetapi dalam eksodus kedua, Tuhan menghadirkan diri-Nya sendiri. Mungkin kesan saat membaca Perjanjan Lama adalah Tuhan itu kejam, tetapi sebenarnya Tuhan ingin mendidik Bangsa Israel, bagaikan seorang bapak mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tuhan bukanlah pribadi yang tega, tetapi Bangsa Israel yang memilih untuk meragukan Tuhan, sehingga Tuhan harus berbuat demikian.

Tuhan sudah tahu bahwa ada jalan yang harus Ia pilih untuk menyelamatkan anak-Nya, jauh sebelum Ia wafat di kayu salib. Ibarat pemerintah, penyelamatan kita menjadi program prioritas Yesus. Biayanya? Mahal sekali! APBN negara manapun tidak akan bisa membayar harga Tubuh dan Darah Kristus! Tujuannya? Untuk menyelamatkan kita, untuk mengingatkan kita bahwa selalu ada harapan di tengah ketidakpastian hidup. Ketakutan akan berubah menjadi kekuatan dan sukacita untuk bertahan dalam hidup, sehingga kita dapat menyadari siapa Yesus.

Santo Nikodemus, yang artinya kemenangan rakyat, memahami betul arti penyelamatan ini. Kelak, beliaulah yang membawa jenazah Yesus dari salib menuju makam. Menurut tradisi suci, Santo Nikodemus menjadi martir untuk merayakan kemenangan abadi akan imannya. Apakah kita mau menjadi Nikodemus yang baru? Menang dari kekhawatiran untuk berserah kepada-Nya atau tenggelam dalam kekhawatiran? Silahkan memilih.

Selamat merayakan Pesta Salib Suci untuk Ordo Sanctae Crucis (OSC) dan kita semua, umat beriman!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Doa Katolik Untuk Menghadapi Kekuatan Jahat

Kumpulan Doa Katolik Untuk Beberapa Intensi

Doa Memorare (Ingatlah, ya Perawan Maria)