Sentuhan Kasih 17 September 2021: Iman Yang Berintegritas
Jumat Pekan Biasa XXIV
Bacaan I: 1Tim 6:2b-12
Mazmur: Mzm 49:6-10.17-20
Bacaan Injil: Luk 8:1-3
Berikut ini saya mengutip KGK 888 dari website imankatolik.id:
| Bersama para imam, rekan sekerjanya, para Uskup mempunyai "tugas utama... mewartakan Injil Allah kepada semua orang" (PO 4), seperti yang diperintahkan Tuhan Bdk. Mrk 16:15.. Mereka adalah "pewarta iman, yang mengantarkan murid-murid baru kepada Kristus dan mereka pengajar yang otentik atau mengemban kewibawaan Kristus" (LG 25). |
Pada sebagian isi Surat Paulus yang Pertama kepada Timotius, Paulus memperingatkan Timotius (yang merupakan Uskup Pertama di Efesus) tentang ajaran-ajaran salah yang menyimpang dari apa yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus. Timotius sungguh memegang teguh isi surat ini dengan memperingatkan orang yang masih mempraktikkan penyembahan berhala berupa paganisme. Berdasarkan tradisi, pada tahun 97, Timotius memberi khotbah di depan orang-orang yang sedang merayakan festival pagan untuk kembali ke jalan Tuhan. Sayangnya, nyawa Timotius melayang di tangan para penyembah berhala ini.
Santo Timotius menjadi teladan para imam dan Uskup untuk senantiasa memiliki integritas dalam mewartakan iman, sesuai dengan KGK 888. Meskipun begitu, tidak hanya klerus saja, kita umat biasa pun juga harus memiliki integritas. Integritas dapat diartikan sebagai sikap untuk mempertahankan kejujuran dan kebenaran dalam berpikir dan bertindak. Berbicara tentang integritas, Menteri Keuangan RI petahana, Bu Sri Mulyani, pernah mengatakan bahwa kualitas integritas seseorang teruji ketika "real money" (uang yang sesungguhnya) terlibat dalam suatu urusan. Berkali-kali Bu Sri menyampaikan tentang integritas dalam berbagai forum, karena banyak sekali kasus korupsi terjadi sampai hari ini, yang pastinya membuat Bu Sri mengelus dada dan harus terus memikirkan taktik baru untuk melawan praktik korupsi di negeri ini.
Ada pepatah mengatakan, "Uang bukan segalanya tetapi segalanya butuh uang." Kalau direnungkan, ini sungguh menyedihkan, karena seiring usia, biasanya kebutuhan hidup seseorang akan semakin meningkat. Jika orang itu belum memiliki pendapatan yang memadai namun tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, maka usaha yang sangat mungkin dilakukan adalah menghalalkan segala cara. Contohnya? Melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, atau bahkan yang lebih ekstrem, pergi ke tempat pesugihan, melakukan praktik perdukunan seperti santet, guna-guna, dan lain sebagainya. Ah, serem banget! Sayang sebenarnya kalau ada orang yang melakukan dosa untuk mendapatkan sesuatu hal yang fana. Apabila ada orang-orang seperti itu di sekitar kita, mari kita doakan mereka supaya berbalik kepada Tuhan dengan kesungguhan hati. Itu baru tentang uang saja. Integritas memiliki lingkup yang lebih dari itu, bisa tentang jabatan dan lain sebagainya.
Kita harus mengingat kembali bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan tanpa memiliki apa-apa. Dengan Sakramen Baptis, kita dianugerahi iman. Inilah kekayaan kita yang sesungguhnya! Kekayaan dunia (uang dan kemampuan) dan jabatan, meskipun fana, juga merupakan anugerah dari Tuhan. Meskipun iman sudah diberikan secara cuma-cuma, itu tidak cukup, karena iman harus selalu diolah dan diasah supaya kita tidak lepas dari iman itu sendiri. Oleh karena itu, kita dituntut untuk menggunakan kekayaan dunia yang kita miliki dengan bantuan iman, sehingga orientasi hidup kita bukanlah terletak pada pemuasan diri sendiri, melainkan untuk membantu orang di sekitar kita yang membutuhkan. Dengan begitu, kita membentuk iman kita menjadi iman yang berintegritas.
Tuhan, ajarilah kami selalu untuk membentuk iman kami menjadi iman yang berintegritas di dalam kehidupan kami.
Komentar
Posting Komentar