Sentuhan Kasih 18 September 2021: Siap Menumbuhkan Sabda Allah
Pekan Biasa XXIV
Bacaan I: 1Tim 6:13-16
Mazmur: Mzm 100:2.3.4.5
Bacaan Injil: Luk 8:4-15
Dalam permenungan saya hari ini, saya teringat dengan homili Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Uskup Keuskupan Sufragan Bandung. Beliau pernah bercerita, saya lupa cerita persisnya, tetapi kurang lebih isinya seperti ini:
Suatu ketika ada umat yang datang kepada seorang uskup dan berkeluh kesah, "Bapa Uskup, mohon maaf saya ingin berkeluh kesah, dan semoga Bapa Uskup dapat memberi solusi. Tolong, Bapa Uskup, tegurlah pastur di paroki saya. Pastur itu kalau berkhotbah setiap Minggu isinya selalu sama saja. Duh, Bapa Uskup, saya sampai bosan mendengarnya! Umat-umat yang lain juga pada mengeluh, Bapa Uskup". Uskup pun menjawab, "Oh, ya, baik, saya akan berbicara dengan Pastur." Suatu ketika, Uskup pun berjumpa dengan Pastur yang dimaksud, lalu mereka berbicara bersama. Uskup pun bertanya tentang keluhan umat, dan Pastur pun berbicara demikian, "Wah, setiap Minggu saya hanya berkhotbah tentang Tuhan, Bapa Uskup." Bapa Uskup pun senang dan menjawab, "Bagus, itu! Itu artinya umat Pastur masih belum mendengarkan Sabda Tuhan dengan baik. Sudah, Pastur lanjutkan terus, ya!"
Saya pun tertawa mendengar cerita itu, tetapi lama kelamaan tersipu-sipu malu, karena saya sering berada di posisi umat, dan mungkin Anda yang membaca juga demikian. Ketika lektor menyampaikan pengumuman sebelum misa, saya mulai memperhatikan sungguh-sungguh, terutama pada kalimat "Misa akan dipersembahkan oleh ....." dan jawaban saya dalam hati kurang lebih dua kalimat ini, "Syukurlah, misanya bisa cepat, nih! Pastur ini kalau homili pasti cepat dan berbobot!" atau "Yah..." sambil menghela napas. Teman saya ada yang sibuk melihat jam selama homili Pastur. Setelah selesai, beliau mengatakan kepada saya, "Wah, homilinya sampai dua puluh lima menit, lho!". Saya pun tersenyum pelan-pelan, karena kalau tertawa bisa dilihat umat banyak.
Saya pun heran dengan diri saya, dan mungkin Anda juga dengan diri Anda sendiri. Rasanya kalau misa selesai 15 menit lebih lama dari biasanya, kok kadang ngedumel begitu. Padahal "kehilangan" waktu sedikit saja seharusnya tidak masalah, main medsos saja bisa tembus tiga jam, kok untuk misa saja kesal sekali, padahal misa kan lebih penting dari pada main medsos! Belum lagi kalau main medsos, pikiran bisa fokus, kalau ikut misa, pikiran bisa kesana-kemari. Secara statistika asal-asalan saya, saya merasa sering kehilangan fokus saat homili. Kadang-kadang lebih parah, apalagi kalau ada masalah besar, baru saja kata pengantar dimulai, saya sudah kehilangan fokus. Aduh Tuhan, maafkan hamba-Mu yang hina ini! Padahal, apabila dihayati dengan kesungguhan hati, Perayaan Ekaristi bisa menjadi kemewahan kita umat Katolik untuk bertemu dengan Yesus Kristus secara langsung. Bahkan bukan bertemu saja, tetapi bersatu.
Dalam perumpamaan yang terdapat pada Injil, tanah merupakan lambang kita para umatnya dan benih merupakan Sabda Allah, dan saya akan menambahkan air untuk melengkapi perumpamaan ini. Ingat bahwa syarat penting bagi benih agar bertumbuh adalah masuk ke dalam tanah yang gembur beserta air yang cukup. Permasalahan penting adalah kita tidak tahu kapan Allah menaburkan Sabda di dalam hati kita. Maka penting bagi kita untuk selalu mengolah diri kita sendiri agar benar-benar siap untuk ditanami oleh Sabda Allah dengan bermacam-macam cara, misalnya berdoa, berpuasa, bermatiraga, meditasi, bergerak melayani.
Selain itu kita juga tidak tahu kapan air akan datang. Air, menurut saya ibarat anugerah dan rahmat. Kita ingat bahwa tanah yang gembur memiliki pori-pori yang banyak, sehingga mampu menampung banyak air untuk pertumbuhan tanaman. Air tidak hanya berupa air bersih, tetapi bisa juga air cucian beras atau air bercampur kotoran hewan, yang justru bisa menumbuhkan benih dengan lebih baik. Oleh karena itu, kita harus menerima segala kesenangan dan penderitaan sebagai anugerah dengan sukacita dan keterbukaan hati yang penuh. Air pun memudahkan tanah untuk diolah menjadi gembur, maka anugerah dapat digunakan untuk menjadi sarana pengolahan diri. Ini yang lebih ekstrem, tanpa mendapat benih dan air, tanah hanyalah seonggok tanah yang tidak berharga. Jika tanah yang gembur ditanami benih, akan tumbuh pohon yang berbuah, yang mengandung benih baru untuk diterbangkan oleh Allah ke tanah yang lain. Bayangkan diri kita seperti itu! Dahsyat benar perumpamaan ini!
Untuk menyambut Ekaristi yang berharga ini, diperlukan persiapan jiwa, raga, dan hati yang mendalam. Kalau kita memiliki masalah, mari kita serahkan kepada Tuhan. Ini pentingnya doa kolekta (dulu namanya doa pembuka), yaitu supaya kita mempersembahkan kegelisahan dan permohonan kita kepada Tuhan. Selanjutnya, kita harus benar-benar memfokuskan diri kepada Tuhan, karena doa kolekta akan diikuti oleh Liturgi Sabda. Bayangkan kalau kita mendengarkan Sabda Tuhan dengan kesungguhan hati, siapa tahu jawaban kegelisahan kita justru ada di dalam Sabda Tuhan, bahkan di dalam homili romo yang kita anggap "paling menyebalkan"! Dengan kekuatan Sabda Allah, kita pun memiliki kekuatan cinta kasih dan semangat baru untuk menyelesaikan permasalahan dan tantangan hidup kita. Permasalahan kita mungkin tidak langsung selesai semudah membalikkan telapak tangan, tetapi kekuatan Sabda Allah membantu kita untuk bertahan sampai permasalahan selesai.
Saya menulis ini, maka saya seolah menampar diri saya sendiri untuk berbenah menjadi lebih baik. Oleh karena itu, marilah kita belajar bersama menjadi pribadi yang lebih baik.
Tuhan Yesus, ajarilah kami menjadi pribadi yang ingin selalu bersatu dengan-Mu, terutama ketika kami Kauundang dalam Perjamuan Ekaristi.
Komentar
Posting Komentar