Sentuhan Kasih 19 September 2021: Kemurnian Hati Bagai Anak Kecil
HARI MINGGU BIASA XXV
PF Santa Perawan Maria dari La Salette
Bacaan I: Keb 2:12.17-20
Mazmur: Mzm 54:3-4.5.6.8
Bacaan II: Yak 3:16-4:3
BPI: 2 Tes 2:14
Bacaan Injil: Mrk 9:30-37
Hari ini cukup spesial karena bertepatan dengan peringatan 175 tahun Santa Perawan Maria dari La Salette. La Salette adalah sebuah tempat di daerah Pegunungan Alpen di Perancis Tenggara, yang bisa dibilang cukup terpencil. Lokasi penampakan Bunda Maria, yang kini dibangun gereja/shrine, berada di ketinggian lebih dari 1700 meter di atas permukaan laut. Karena berada di pegunungan, lokasi di sekitar shrine ini sungguh luar biasa indah dan menawan. Sebagai informasi, Santa Perawan Maria dari La Salette sendiri dikenal sebagai pelindung Kongregasi MSF (Misionaris Keluarga Kudus). Pada tanggal 19 September 1846, Bunda Maria menampakkan diri kepada Maximin Giraud (11 tahun) dan Mélanie Calvat (14 tahun). Bunda Maria tampak dalam keadaan sangat berduka, terlihat ketika wajahnya dibenamkan di dalam muka. Di pundaknya terdapat rantai yang berat, dan di lehernya terdapat salib dengan paku-palu beserta penjepit di sisi kanan dan kiri. Menarik bahwa Bunda Maria menampakkan diri kepada anak-anak yang bahkan tidak hapal Salam Maria dan Bapa Kami, bahkan jarang pergi ke gereja. Singkatnya, pesan penting dari penampakan ini adalah supaya semua orang melakukan pertobatan dan melakukan perbuatan baik (untuk selengkapnya bisa dilihat di website lain, karena pesannya sangat menyentuh hati).
Meskipun tidak semua, tetapi banyak penampakan Bunda Maria yang melibatkan anak muda/kecil yang sederhana sebagai visiuner (penglihat), termasuk yang terjadi di Lourdes, Fatima, dan Kibeho. Ini adalah sesuatu hal yang menarik. Sebagai gambaran, pada zaman kehidupan Yesus dan Bunda Maria, anak kecil sering sekali tidak dianggap. Penghitungan lima ribu orang yang mendapatkan mujizat lima roti dan dua ikan pun hanyalah angka pria, tidak termasuk wanita dan anak-anak. Meskipun begitu, Bunda ingin memilih anak-anak untuk menyampaikan pesannya kepada dunia. Pada awalnya, ketika anak-anak visiuner ini menjelaskan apa yang terjadi pada penampakan Bunda Maria, hampir semua orang tidak percaya. Mereka dianggap berimajinasi, mengarang bebas. Penampakan Bunda Maria hanya disebut khayalan semata. Para visiuner Fatima pun sampai harus ditahan selama beberapa hari oleh rezim Republik Pertama Portugal yang anti-agama. Meskipun begitu, kekuatan kasih Allah dan Bunda Maria sungguh kuat, sehingga pesan penampakan pun dapat kita ketahui bersama sampai saat ini.
Anak adalah figur yang murni dan bersih hati. Ia masih belum mengetahui seluk beluk kejahatan dunia. Sayangnya, kita hidup di dunia yang masih mengutamakan nilai-nilai materialistis sebagai bentuk kebahagiaan tertentu. Semakin dewasa, secara manusiawi, kesadaran akan pentingnya kebutuhan hidup semakin terbentuk diiringi dorongan dan nafsu untuk mencapainya. Apabila lingkungan di sekitarnya mengatakan bahwa orang harus menjadi kaya agar dihormati, maka ia akan mendorong dirinya untuk bekerja keras tanpa lelah, sampai kekayaan itu benar-benar ada di tangannya dan ia menjadi orang terpandang. Lebih menyedihkan, ia bisa saja menabrak nilai moral dan agama atas nama kebahagiaan. Hatinya berubah menjadi kotor dan dilepas begitu saja. Ia terus bergerak menjadi manusia yang tak punya hati. Padahal hati adalah singgasana Allah di dalam dirinya, sehingga otomatis ia pun berpaling dari Allah.
Inilah pentingnya kemurnian, yaitu mengosongkan diri dari egosentrisme dengan kesadaran penuh, sehingga kehidupan kita tidak hanya dipenuhi hawa nafsu semata. Terlepas dari seberapa kekayaan dan tingginya jabatan, kita perlu merendahkan diri di hadapan Allah. Penting sekali untuk menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa, sehingga kita menerima keadaan diri apa adanya. Kelebihan dan kekurangan, kebahagiaan dan kesedihan perlu diterima untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Dengan pandangan baru, maka segala jabatan dan kekayaan bukanlah tolak ukur untuk menjadi manusia yang suci. St. Alfonsus Rodriguez, misalnya, mendalami perannya dengan kesungguhan hati ketika diterima dalam seminari Yesuit untuk menjadi penjaga pintu. Ia tidak pernah berlaku kasar kepada konfraternya, sehingga superiornya berkata "Frater itu bukanlah seorang manusia - ia seorang malaikat!" Pemurnian hati menjadi jalan menuju hidup saleh yang memberi kebahagiaan bagi orang di sekitar kita.
Bunda Maria dari La Salette, doakanlah kami menjadi pribadi yang senantiasa mau dimurnikan dari dosa dan hawa nafsu supaya senantiasa menjadi anak Allah.
Komentar
Posting Komentar