Sentuhan Kasih 20 September 2021: Apakah Saya Seorang Katolik?
PW Santo Andreas Kim Taegon, Imam,
dan Santo Paulus Chong Hasang, dkk., Martir Korea
Bacaan I: Ezr 1:1-6
Mazmur: Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6
Bacaan Injil: Luk 8:16-18
Tahun ini, umat Katolik Roma di Korea berbahagia karena Konferensi Waligereja Korea mencanangkan Tahun Yubelium untuk merayakan 200 tahun kelahiran St. Andreas Kim Taegon, yang dilaksanakan sejak 29 November 2020 hingga 27 November 2021. Tema dari tahun yubelium ini adalah "Apakah Anda seorang Katolik?", yang merujuk pada pertanyaan eksekutor kepada St. Andreas Kim Taegon sebelum dibunuh. Dengan penuh kebahagiaan, St. Andreas menjawab "Ya, saya adalah seorang Katolik."
St. Andreas Kim Taegon dikenal sebagai pastur Katolik Roma dari Korea yang pertama, sedangkan St. Paulus Chong Hasang adalah katekis handal yang mengusulkan pembentukan Keuskupan di Korea kepada Bapa Paus Gregorius XVI (yang pada akhirnya dikabulkan). Keduanya wafat sebagai martir dan dikanonisasi beserta 103 martir lainnya oleh Paus Yohanes Paulus ke-II pada 6 Mei 1984. Di antara 103 martir itu, terdapat Bapa Uskup St. Laurent-Joseph-Marius Imbert, uskup yang dikirimkan oleh Bapa Paus Gregorius XVI.
Injil yang kita dengar hari ini adalah lanjutan dari Injil hari Sabtu mengenai benih yang jatuh di tanah. Terang membuat semua yang ada di sekitar menjadi jelas dan nyata, terang membuat hati dipenuhi rasa damai dari ketakutan yang tidak jelas, dan terang menjadi penunjuk jalan yang benar. Tuhan dengan segala kerendahan hati berkenan untuk hadir di dunia ini untuk menjadi terang bagi kita. Ketika Tuhan hidup di dunia ini, Ia menjelaskan bahwa yang nyata dan abadi sesungguhnya bukanlah menjadi bagian dari Kerajaan Romawi, bukanlah dunia ini, melainkan Kerajaan Surga. Tuhan juga membuat hati setiap orang yang ada di sekitarnya menjadi damai, termasuk orang-orang yang mengalami mujizat penyembuhan. Salah satunya adalah orang yang sangat setia dalam mengikuti Yesus, yaitu Maria Magdalena, yang dibebaskan dari tujuh roh jahat. Ia menjadi penunjuk jalan yang benar, supaya orang tidak tersandung dan jatuh ke dalam dosa. Tuhan mengingatkan banyak orang bahwa jalan terbaik adalah berbuat kasih. Ia tidak hanya mengatakannya, Ia sungguh melakukannya melalui penyaliban demi mengasihi semua orang yang terjatuh dalam dosa.
Berkali-kali Tuhan bersikeras menyampaikan kebenaran dalam setiap perumpamaan kepada orang-orang Farisi. Ia sungguh mengasihi mereka dan benar-benar berharap bahwa orang Farisi bisa menjadi jalan bagi-Nya untuk mewartakan terang yang sesungguhnya. Akan tetapi, mereka menolak mentah-mentah! Mereka begitu bangga dalam kebebalan dan kesombongannya, menganggap ritual yang mereka perbuat setiap hari adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran yang sejati. Mereka takut kehilangan segala pujian umat yang dipersembahkan kepada mereka. Akan tetapi, Tuhan tidak menyerah, karena Ia tahu masih banyak orang yang mau untuk diselamatkan dan mau menjadi jalan bagi-Nya untuk mewartakan terang. Daya terang Tuhan sungguh kuat dan dalam, sehingga melalui berbagai jaman yang penuh dengan persekusi, kemartiran, skisma, dan bahkan jaman kegelapan gereja, ada saja pesan Tuhan yang bisa bertahan dan dapat kita ketahui sampai pada detik ini, di tempat ini.
Penting bagi kita untuk mengubah sikap kita agar terarah kepada terang yang sejati. Tuhan memberi kata kunci yaitu "cara kalian mendengar". Cara yang terbaik untuk mendengar Sabda Allah adalah mengimaninya. Iman artinya tahu bahwa Sabda Allah adalah kebenaran sejati, lalu memasukkan Sabda Allah itu supaya meresap di dalam hati, dan berani mempertahankan Sabda Allah sebagai sebuah hal yang harus dipertahankan di dalam hati sampai kapan pun.
Mari kita merenungkan hal ini. Pada jaman Dinasti Joseon, persekusi terhadap umat Katolik marak terjadi. Pada saat itu Tuhan memanggil Kim Taegon menjadi gembala-Nya di Korea. Bisa saja ia menolak karena takut dibunuh, tetapi ia mendengarkan dengan sungguh pesan Tuhan. Kalau saja menolak, Tuhan masih bisa memilih orang lain supaya terangnya sampai kepada umat di Korea. Mungkin ceritanya akan sedikit berbeda karena beda tokoh. Namun, Tuhan tahu bahwa Kim Taegon adalah orang yang sangat tepat. Kim Taegon telah mengimani Yesus sejak dibaptis, sehingga ia sanggup "diberi" oleh Tuhan misi yang lebih besar dan lebih penting lagi. Dengan "diberi", iman Kim Taegon sungguh semakin didewasakan oleh Tuhan, menjadi anak kesayangan Tuhan yang penuh dengan hikmat.
Saya baru saja menyaksikan acara Kick Andy. Salah satu bintang tamunya adalah Albertus Gregory Tan dari Yayasan Vinea Dei yang telah membangun 150 gereja per Agustus 2021. Tuhan memanggilnya untuk mengunjungi sebuah gereja yang rusak berat di pedalaman Sumatera. Hatinya tersentuh dan ia mulai mengambil foto gereja untuk dibagikan melalui Facebook. Banyak orang merasa kasihan, sehingga tercetus ide baginya untuk menggalang dana pembangunan gereja. Sayangnya, orang-orang itu hanya berhenti pada rasa kasihan dan sekadar mendoakan. Greg pun menjadi bimbang. Tuhan pun kembali menghadirkan seorang Ibu yang menyumbang satu dolar US, kecil sekali nilainya! Ia pun masih bimbang. Akan tetapi, kejadian ini menjadi bagian dari pendewasaan imannya, dan ia bersemangat kembali dan terus mengupayakan dana sehingga donatur pun mulai bermunculan. Mungkin tidak kalau Greg bisa menolak sentuhan hati Tuhan? Sangat mungkin! Mengapa harus repot-repot menggalang dana? Tetapi itu bukanlah Greg.
Mungkin di sekitar kita, di lingkup keluarga kita, atau masyarakat kita ada sebuah masalah, kemudian Tuhan menyentuh hati kita untuk berbuat kebaikan. Maka dengan iman yang kita miliki, kita harus berani keluar dari zona nyaman untuk melangkah. Ketika Tuhan sudah memilih umatnya untuk melangkah, lakukanlah di dalam iman, maka Tuhan akan menerangi langkah kita dalam rupa hal yang di luar nalar kita.
Apakah saya mengimani Yesus dengan kesungguhan hati? Apakah saya sungguh-sungguh benar orang Katolik?
St. Andreas Kim Taegon, doakanlah kami.
St. Paulus Chong Hasang, doakanlah kami.
Para martir Korea, doakanlah kami.
Komentar
Posting Komentar