Sentuhan Kasih Perdana 13 September 2021: Fokus Kepada Tuhan

Selamat datang dan selamat membaca renungan dari saya yang pertama. Sudah setahun lamanya ada dorongan dalam diri saya (yang tidak tahu datang dari mana) untuk menulis mengenai renungan setiap hari dari sudut pandang saya. Semoga siapa pun yang membaca di sini berkenan akan semua hal yang saya tulis di sini.

PW St. Yohanes Krisostomus
Krisostomus berarti Si Mulut Emas, menandakan bahwa beliau adalah pembicara yang ulung

Bacaan I: Tim 2:1-8
Mazmur: Mzm 28:2.7.8-9
Bacaan Injil: Luk 7:1-10

Renungan hari ini saya tulis sembari menyaksikan streaming kedatangan Bapa Paus Fransiskus di Hungaria dalam rangka bertemu dengan komunitas ekumenisme di Hungaria dan mempersembahkan misa penutupan Kongres Ekaristi Internasional ke-53. Menurut informasi, misa ini disebut sebagai misa Statio Orbis, karena gereja-gereja di dunia (tidak hanya Katolik Roma) ikut bergabung dalam Perayaan Ekaristi bersama Bapa Paus. Kedatangan Bapa Paus sungguh disambut dengan meriah, bahkan saya salah fokus karena banyak sekali orang yang datang di sana. Bagaikan saat-saat pra-pandemi Covid-19, banyak orang yang berkumpul di sana tampak menjaga jarak dan tidak memakai masker. Konon hal tersebut diperbolehkan setelah sebagian besar orang Hungaria sudah divaksin. Luar biasa! Semoga Indonesia bisa menyusul juga, supaya Paus Fransiskus bisa menyapa kita di Indonesia.

Kongres Ekaristi Internasional merupakan suatu kongres yang diadakan dalam rangka merayakan kehadiran Yesus yang nyata dalam setiap Perayaan Ekaristi, dan dicanangkan untuk diadakan kurang lebih setiap empat tahun sekali. Hasil dari kongres ini diharapkan dapat menjadi pembaharu semangat bagi setiap umat untuk mendalami misteri Ekaristi melalui ikatan personal yang kuat antara umat dan Kristus.

Bacaan Injil hari ini sungguh luar biasa, bagaimana seorang perwira rela pergi menemui Yesus untuk memohon rahmat penyembuhan bagi hambanya. Perwira tersebut begitu yakin Yesus dapat memberi rahmat kesembuhan tanpa meminta Yesus untuk bertemu dengan hambanya secara fisik. Saya yakin banyak orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang bisa disembuhkan tanpa bertemu dengan tabibnya, bahkan hanya dengan sepatah kata saja?

Hal tersebut mengingatkan saya dan mungkin juga Anda dalam Perayaan Ekaristi, tepat ketika sebelum menerima Komuni. Kita berkata "Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh." Ketika kita mengucapkan "Ya Tuhan", maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengimani bahwa Ia hadir dalam perayaan tersebut. Iman memiliki nilai yang lebih mendalam daripada yakin dan percaya. Percaya hanya terbatas pada logika, yaitu mengetahui karena menggunakan panca indera kita. Akan tetapi, dengan mengimani, kita melihat bahwa bukan imam saja, melainkan Yesus sendirilah yang mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah. Hal ini masih begitu sulit untuk dipahami secara logika dan mata fisik kita, sehingga kita membutuhkan iman untuk memahami itu. Iman berperan melampaui ruang kerja logika kita.

Perayaan Ekaristi sudah menjadi privilege dan kesempatan yang berharga bagi kita untuk bertemu dengan Tuhan, merasakan sabda-Nya yang hadir dalam diri kita. Dalam bacaan pertama, dijelaskan "...agar dipanjatkan doa-doa dan permohonan serta ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, ...". Hal ini memberi tahu kita bahwa perlunya usaha kita untuk ikut mempersembahkan diri kita saat ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi. Persembahan diri dapat dilakukan dengan menghadirkan jiwa dan raga kita secara penuh untuk datang kepada Yesus, seperti yang dilakukan perwira di Kapernaum. Kalau kita tidak datang kepada-Nya, bagaimana kita dapat merasakan kekuatan sabda-Nya?

Saya rasa banyak keluhan yang terjadi seperti ini: mungkin iya kalau kita hadir secara fisik, tetapi hati kita, pikiran kita masih tertuju pada hal duniawi. Hati kita masih menyimpan dendam dengan orang lain, atau rasa sedih yang entah datang dari mana. Maka ingatlah pada bacaan hari ini, "Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran". Ingat bahwa dengan berfokus kepada-Nya, kita diselamatkan dari maut. Maka ketika pikiran kita berpaling, tarik napas, hening sejenak, serahkan apa yang menjadi pergumulan kita, pusatkanlah pikiran kita kembali kepada Tuhan, dan mohonkanlah rahmat agar kita senantiasa berfokus dalam doa dan Perayaan Ekaristi. Lakukanlah secara terus menerus dan jangan menyerah!

Selain itu, janganlah berhenti dengan fokus kepada Tuhan, karena iman membutuhkan aksi yang nyata. Wartakanlah semangat iman akan Yesus Kristus melalui perbuatan kita, yakinlah untuk mengucapkan dan melakukan segala hal dengan penuh kebenaran, seperti yang dilakukan oleh St. Yohanes Krisostomus, yang kita peringati pada hari ini.

St. Yohanes Krisostomus, doakanlah kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Doa Katolik Untuk Menghadapi Kekuatan Jahat

Kumpulan Doa Katolik Untuk Beberapa Intensi

Doa Memorare (Ingatlah, ya Perawan Maria)