Sentuhan Kasih 21 September 2021: Kasih Yang Menyelamatkan

Pesta St. Matius, Rasul dan Penulis Injil

Bacaan I: Ef 4:1-7.11-13
Mazmur: Mzm 19:2-3.4-5
Bacaan Injil: Mat 9:9-13

Sebelum menjadi pengikut Yesus, St. Matius adalah seorang pemungut cukai di Kapernaum. Pemungut cukai adalah figur yang dibenci oleh orang Yahudi karena dua alasan. Pertama, pemungut cukai memungut pajak dari masyarakat untuk diberikan kepada Kerajaan Romawi yang merupakan penjajah. Kedua, tidak ada kepastian mengenai besaran pajak karena tergantung pada "kemurahan hati" pemungut cukai. Mereka dapat menentukan harga pajak dengan besaran yang jauh dari seharusnya untuk memperoleh keuntungan pribadi. Sering kali mereka bertindak secara kasar dan kejam saat menagih pajak. Bayangkan, Matius adalah orang Yahudi dan memilih untuk mengabdi pada orang Romawi dan menindas sesamanya orang Yahudi. 

Di dalam Injil dikatakan Yesus hadir dan makan bersama dengan pemungut cukai. Masyarakat Yahudi yang memandang Yesus sebagai penyelamat dari penjajahan Bangsa Romawi pun pasti bertanya dalam hati bahwa bagaimana mungkin seorang penyelamat makan bersama dengan musuh-Nya. Belum lagi orang Farisi, yang mengutamakan kepentingan ritual di atas segalanya untuk mendapatkan keselamatan abadi. Pada Perjanjian Lama, memang Allah menganugerahi Hukum Taurat dengan berbagai peraturan dan ritual yang ketat supaya Bangsa Israel menjadi bangsa yang sungguh-sungguh terpilih, loyal, dan mengimani Tuhan. Imam dan orang Farisi pun dipilih Allah untuk menjaga agar Hukum Taurat tetap berlaku. Akan tetapi, terkadang pelaksanaan ritual menjadi kebablasan. Mereka lupa bahwa Allah sesungguhnya juga murah hati kepada siapa pun. Oleh karena itu, Yesus hadir untuk mendobrak pandangan terhadap hukum yang berlaku. Ia bermurah hati untuk datang kepada setiap orang yang pada jaman itu sering dipandang sebelah mata, najis, dan hina. Ia sungguh berharap bahwa perilaku-Nya membuka mata hati orang Farisi, bahwa sesungguhnya cinta kasih kepada sesama yang terpinggirkan bernilai jauh lebih tinggi dari ritual semata.

Kasih adalah hukum Yesus yang paling utama, maka sebagai pengikut Kristus, sudah selayaknya kita menghidupkan kasih di dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Kasih yang sempurna adalah kasih yang disertai praktik nyata dan menembus dinding perbedaan apapun. Nilai kasih jauh lebih dalam daripada cinta. Cinta terjadi disertai dengan syarat tertentu, sehingga cinta akan meluruh jika orang yang dicintai justru membenci kita. Sedangkan kasih itu apa-adanya, terus mengalir tanpa syarat sekalipun orang yang dikasihi membenci kita. Bandingkan, "aku akan mencintai kamu jika wajahmu mirip Lisa Blackpink" dengan "aku mengasihi kamu walaupun tubuhmu kecil seperti gentong susu."

Tuhan menjadi bukti nyata bahwa kasih itu menyelamatkan. St. Matius tidak lagi terjebak dalam dosa, melainkan diubah oleh-Nya menjadi pewarta yang penting dalam perjalanan Gereja Katolik. Kita diajak untuk mengasihi sesama kita apa pun latar belakangnya, terutama yang membenci kita. Kita perlu senantiasa mendoakan dan menyingkirkan pandangan negatif kita terhadap mereka. Siapa tahu doa kita dikabulkan dengan dorongan kasih Yesus, sehingga mereka pun bertobat dan jiwa mereka terselamatkan dari bahaya api neraka. Lebih lagi, para malaikat bersukacita di surga karena ada satu orang lagi yang bertobat. Mari kita mendoakan supaya semakin banyak umat Katolik memiliki semangat kasih, sehingga tercipta kedewasaan dan persatuan iman antar anggota gereja, dan gereja masa kini mampu menjadi cerminan hidup dinamis para rasul dan gereja perdana di masa lalu.

St. Matius, doakanlah kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Doa Katolik Untuk Menghadapi Kekuatan Jahat

Kumpulan Doa Katolik Untuk Beberapa Intensi

Doa Memorare (Ingatlah, ya Perawan Maria)