Sentuhan Kasih 22 September 2021: Pedagogi Allah Dalam Perutusan Kita
Rabu Pekan Biasa XXV
Bacaan I: Ezr 9:5-9
Mazmur: Tob 13:2.4.6.7.8
Bacaan Injil: Luk 9:1-6
Banyak orang mengatakan sikap Allah dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) bagaikan dua hal yang bertentangan. Sikap Allah sering dipandang kejam di dalam PL karena sering menghukum Bangsa Israel, berbeda dengan Allah yang mengutamakan perintah kasih dalam PB. Tentu saja keliru apabila kita bertumpu pada pendapat tersebut. Gereja menekankan pengajaran bahwa PL dan PB adalah satu kesatuan yang selaras. Untuk memudahkan kita dalam memaknai keselarasannya, gereja mengajarkan konsep Pedagogi Allah (divine pedagogy), yang berarti Allah menyingkap rencana keselamatan Allah secara bertahap sesuai dengan perkembangan umat-Nya. Untuk memudahkan pemahaman ini, kita dapat membayangkan bagaimana orang tua mendidik anaknya. Saat anak masih kecil, orang tua sering mendidik anaknya dengan disiplin dan hukuman supaya sikapnya selalu sempurna. Sedangkan dalam tahap perkembangannya, ketika anak sudah beranjak dewasa, orang tua lebih menekankan aspek pemahaman dan tanggung jawab, sedangkan sikap sempurna tidak terlalu menjadi penekanan. Allah ingin mendidik Bangsa Israel muda karena Ia ingin Bangsa Israel menjadi bangsa yang benar-benar pilihan Allah. Kedatangan Yesus pada Bangsa Israel menekankan pemahaman dari ritus-ritus dan aturan yang dilaksanakan, yaitu cinta kasih, hukum yang paling sempurna.
Bangsa Israel, bangsa yang Tuhan pilih, harus dihukum Tuhan dengan cara dibuang ke Babel. Akan tetapi, Tuhan sungguh baik kepada Bangsa Israel, sehingga mereka dapat pulang dari tempat pembuangan dan membangun bait Allah kembali. Sayang, mereka pun masih belum sadar dan kembali jatuh dalam dosa perkawinan campur yang melanggar hukum Taurat. Seperti yang tertera pada bacaan pertama, Nabi Ezra yang mengetahui hal tersebut memposisikan diri sebagai orang yang melakukan pelanggaran dosa. Ia memohon ampun kepada Allah supaya tidak melimpahkan hukuman kembali. Kita tahu bahwa nabi merupakan utusan yang Tuhan pilih untuk menjaga umat Israel agar tidak menyimpang daripada-Nya, dan Nabi Ezra pun melaksanakan perutusannya dengan baik. Secara tersirat, kehadiran Nabi Ezra menjadi bukti bahwa Tuhan sebenarnya sungguh mengasihi Bangsa Israel.
Injil kembali menunjukkan bahwa Yesus pun tetap mengasihi Bangsa Israel dan bahkan juga bangsa lain melalui kehadiran diri-Nya secara langsung. Jauh sebelum disalib, Yesus mulai mempersiapkan murid-Nya untuk siap diutus menjadi pewarta keselamatan Allah dengan risiko menderita dan ditolak. Di dalam tradisi Yahudi, mengebaskan debu dari kaki dilakukan saat meninggalkan daerah najis, maka ini menjadi peringatan keras bagi orang yang menolak keselamatan Allah. Rencana Yesus sungguh tepat, sehingga para murid, meskipun dilanda jatuh bangun, tetap melayani sepenuh hati, dan warta keselamatan Allah dapat kita dengar dan resapi sampai saat ini.
Pedagogi Allah pun masih berlaku hingga saat ini meskipun dalam bentuk dan tantangan yang berbeda. Kita pun dididik untuk diutus oleh Allah melalui perkataan dan perbuatan kita terhadap diri sendiri dan sesama. Perutusan kita membutuhkan penyangkalan diri yang pada awalnya sulit dilakukan karena gejolak hati yang sering condong pada perbuatan dosa. Untuk itu, Allah hadir dalam rupa Roh Kudus yang menjadi pembimbing kita supaya berada di jalan yang tepat. Selanjutnya, kita harus berserah kepada Roh Kudus dengan mendengarkan-Nya melalui suara hati kita. Secara simbolis, perutusan ini telah dinyatakan dalam Sakramen Krisma. Oleh karena kita telah diutus, marilah kita pergi mewartakan karya keselamatan Allah.
Tuhan, didiklah kami melalui kuasa Roh Kudus supaya siap bergerak menjadi pewarta karya keselamatan-Mu di dunia ini.
Komentar
Posting Komentar