Sentuhan Kasih 23 September 2021: Dosa Bukanlah Sebuah Kewajaran

PW. Santo Padre Pio dari Pietrelcina, Imam

Bacaan I: Hag 1:1-8
Mazmur: Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b
Bacaan Injil: Luk 9:7-9

"Berdoa, berharap, dan jangan khawatir. Khawatir itu tidak ada gunanya. Tuhan itu penyayang dan akan mendengar doamu." - St. Padre Pio

Santo Padre Pio (1887-1968) adalah salah satu santo yang paling terkenal karena berbagai mujizat terjadi melalui perantaraannya, bahkan selama beliau masih hidup. Karena banyak saksi hidup yang turut merasakan mujizat, pastur yang bernama asli Francesco Forgione ini dibeatifikasi pada 2 Mei 1999 dan dikanonisasi pada 16 Juni 2002 oleh Paus Yohanes Paulus II. Salah satu mujizat yang menarik adalah sebagai berikut.

Salah satu anak spiritual Padre Pio, Cleonice Morcaldi, mengatakan bahwa keponakan laki-lakinya dipenjara saat Perang Dunia II. Keluarganya tidak menerima kabar darinya selama setahun, sehingga mereka percaya bahwa dia telah meninggal. Orangtuanya sangat khawatir dengan keadaannya. Suatu saat, ibunya pergi menemui Padre Pio, lalu berlutut didepannya saat Padre Pio berada di dalam bilik pengakuan, dan berkata, "Tolong, katakan jika anakku masih hidup. Saya tidak akan pergi sebelum Anda mengatakannya!" Padre Pio bersimpati dengannya, dan air mata mengalir di pipinya ketika ia berkata, "Berdiri dan pergilah dalam damai." Beberapa hari kemudian, Cleonice tidak dapat menahan bayangan rasa sakit yang dialami orangtua tersebut, sehingga ia meminta sebuah mujizat. Dengan penuh kepercayaan, Cleonice berkata, "Bapa, saya akan menulis sebuah surat untuk keponakanku, Giovannino. Saya akan menulis namanya saja di dalam amplop karena saya tidak tahu di mana ia berada. Bapa dan Malaikat Pelindung akan membawa surat itu kepadanya di manapun ia berada." Padre Pio tidak menjawab dan Cleonice tetap menulis surat. Pada malam hari, Cleonice meletakkan surat itu pada meja di samping tempat tidurnya. Pada pagi hari, ia takjub sekaligus takut ketika melihat suratnya menghilang. Ia pergi kepada Padre Pio untuk berterima kasih dan Padre berkata. "Berterimakasihlah kepada Bunda Maria." Setelah lima belas hari, Giovannino pun membalas surat tersebut. Seluruh keluarganya berbahagia dan mengucap syukur kepada Tuhan dan Padre Pio.

Dari cerita tersebut, kita mengetahui banyak orang kehilangan saudaranya dalam Perang Dunia II. Keadaan sangat kacau dan banyak orang kehilangan pengharapan. Mungkin saja keluarganya ditahan pihak musuh dan dibunuh (Italia bergabung di dalam Blok Poros bersama dengan Jepang dan Jerman melawan pihak Sekutu), atau mungkin ditawan untuk kerja paksa, dan sebagainya. Ibu dari Giovannino pun khawatir, tetapi ia tetap memiliki harapan bahwa anaknya masih selamat.

Kalau Padre Pio merasakan bertahan hidup di dalam Perang Dunia I dan II, juga mungkin Pandemi Flu Spanyol, saat ini kita sedang berjuang melawan Pandemi Covid-19, sehingga bisa dibilang kita hidup di dunia yang penuh perjuangan. Karena tidak tahu dengan masa depan, kita cenderung mudah khawatir. Memang manusiawi, tetapi tenggelam dalam kekhawatiran bukanlah hal yang bijaksana. Dalam bacaan pertama, Tuhan menegur Bangsa Israel untuk membangun bait suci terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan duniawi. Tuhan ingin kita mengejar harta surgawi yang abadi dibandingkan harta duniawi yang fana. Pekerjaan yang kita lakukan merupakan kewajiban, tetapi kita diminta untuk membangun 'bait suci' kita sendiri melalui tindakan-tindakan rohani yang nyata (berdoa, membaca kitab suci, ibadat, pelayanan, ekaristi). Ketika kita khawatir, berhenti sejenak dan berdoalah karena doa adalah napas jiwa. Jika kita tidak berdoa dengan kesungguhan hati, bukankah kita menyiksa jiwa kita sendiri?

Rasa khawatir bisa menjadi dasar dari perbuatan dosa karena khawatir adalah sikap yang meragukan kekuasaan Tuhan. Khawatir berlebihan akan memudahkan kita berbuat dosa hingga kita merasa nyaman. Lebih bahaya lagi, kenyamanan berbuat dosa akan memupuk dosa menjadi sebuah kewajaran. 

Ah, besok kan aku masih bisa tobat lagi, ngapain takut? 
Ah, teman-temanku korupsi, masa aku nggak? Bisa dijauhi nanti!
Uangnya aku mark-up dikit ah, biar dapat uang untuk beli mobil baru!

Bayangkan betapa rusaknya jiwa seperti itu. Jiwa yang rusak pun dapat kita lihat dalam diri Herodes. Ia sama sekali tidak menyesal atas pembunuhan Yohanes Pembaptis. Pembunuhan ia anggap sebagai suatu hal yang wajar demi melanggengkan kekuasaannya. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah kita masih nyaman berbuat dosa? Apakah jiwa kita telah berubah menjadi seperti jiwa Herodes?

Tuhan, ubahlah kekhawatiranku menjadi sikap penyerahan diri kepada kehendak-Mu melalui tindakan rohani yang aku lakukan.
Santo Padre Pio, doakanlah kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Doa Katolik Untuk Menghadapi Kekuatan Jahat

Kumpulan Doa Katolik Untuk Beberapa Intensi

Doa Memorare (Ingatlah, ya Perawan Maria)