Sentuhan Kasih 24 September 2021: Mengenal Allah
Jumat Pekan Biasa XXV
Bacaan Pertama: Hag 2:1b-10
Mazmur: Mzm 43:1.2.3.4
Bacaan Injil: Luk 9:18-22
Sampai saat ini saya sering berkunjung ke rumah guru agama saya yang bisa dibilang mengubah hidup saya. Kisah hidupnya sungguh menarik. Lulus sebagai seorang Sarjana Ekonomi, lalu merantau ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia sudah berpikir suatu saat akan pulang kampung dengan membawa istri, anak, dan mobil mewah. Akan tetapi, pekerjaan di Jakarta tidak menjamin kehidupannya. Alih-alih sukses, guru saya memutuskan untuk pulang kampung dengan tidak membawa apa-apa. Di kota kami yang kecil, guru saya pun tinggal di rumah orangtuanya dan tidak mempunyai pekerjaan selama beberapa tahun. Meskipun telah menikah dan punya anak, hidupnya tetap terpuruk dan penuh penyesalan. Suatu hari, ia diajak oleh temannya untuk mengikuti retret. Dalam satu sesi, guru saya menangis sejadi-jadinya, menyesali segala dosa yang ia perbuat di masa lalu, dan mulai mengenal keberadaan Tuhan.
Sepulang dari retret, hatinya begitu terbakar oleh kasih karunia Tuhan. Ia pun mulai memperbaiki kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Guru saya bergabung dalam persekutuan doa dan di sinilah ia menemukan talentanya untuk memberikan renungan. Karena renungannya sangat bagus, guru saya mulai diundang untuk pelayanan dalam persekutuan doa di berbagai tempat. Suatu ketika ada seorang ibu-ibu datang kepadanya dan bertanya, "Pak, ini ada lowongan pekerjaan sebagai guru agama honorer. Panjenengan mau mengajar di sekolah X, ndak?" Guru saya terperanjat kaget dan menolak, "Nuwun sewu, saya itu bukan Sarjana Agama, Bu. Mengajar agama saja saya belum pernah." Tidak menyerah, Ibu-ibu itu pun berkali-kali datang ke rumah untuk meyakinkan guru agama saya. Suatu saat guru saya menyerah dan menjadi guru agama di sekolah tersebut.
Bayangkan, meskipun penghasilannya terbatas, guru saya punya keinginan yang besar untuk membangun rumah doa. Kebetulan tanahnya cukup luas meskipun rumahnya kecil. Ia pun tetap berdoa setiap hari dan tiba-tiba bantuan datang dari berbagai pihak. Perlahan, rumah doa pun jadi, bahkan lebih bagus dari rumahnya sendiri. Setiap ada kegiatan di rumah doa, ini yang menarik, guru saya bisa menyediakan makanan bagi semua tamu tanpa kekurangan. Ia pun heran dan berpesan kepada kami, "Nggandhula marang Gusti, neng ojo nekat mempermainkan Gustine dhewe" (Bergantunglah pada Tuhan, tapi jangan nekat mempermainkan Tuhan (untuk mendapat sesuatu).)
Cerita guru saya menyadarkan saya bahwa kekuatan doa dan kekuatan-Nya itu nyata adanya. Tuhan bisa menembus segala ketidakmungkinan dalam hidup dan membuatnya menjadi sangat mungkin. Akan tetapi, Tuhan menginginkan kita untuk mendekat kepada-Nya dan mengenal-Nya. Mengenal Yesus berarti memahami dan meresapi dalam hati kita segala mujizat, kebahagiaan, serta penderitaan-Nya. Penderitaan Tuhan Yesus harus menjadi fokus dan pengingat kita sebagai umat Katolik supaya kita mengetahui bahwa nilai penderitaan sungguhlah berharga. Ketika kita terombang-ambing dalam hidup atau bersedih dalam sesuatu, kita dapat mengingat penderitaan Tuhan untuk menghadapinya dengan penuh kasih, sehingga kita tidak terluka ketika dilukai, melainkan senantiasa memancarkan kasih bagi sesama.
Secara singkat, ada lima langkah yang harus kita lakukan sesering mungkin sebagai anak Tuhan untuk jauh lebih mengenal Tuhan, yaitu:
1. Berdoa, karena doa adalah berkomunikasi dengan Tuhan
2. Membaca Kitab Suci, karena kitab adalah surat cinta-Nya
3. Ibadat, karena Tuhan ingin kita membentuk kesatuan antar jemaat sebagai sesama murid Tuhan
4. Pelayanan, karena Tuhan bisa hadir melalui orang yang kita layani
5. Ekaristi, karena melalui ekaristi kita mempersatukan diri sepenuh hati dengan Tuhan
Tuhan, ajari kami untuk semakin mengenal-Mu lebih dalam supaya kami senantiasa taat kepada-Mu sebagai jalan kebenaran dan hidup.
Komentar
Posting Komentar