Sentuhan Kasih 25 September 2021: Jalan Keselamatan Yang Abadi
Sabtu Pekan Biasa XXV
Bacaan Pertama: Za 2:1-5.10-11a
Mazmur: Yer 31:10.11-12ab-13
Bacaan Injil: Luk 9:43b-45
Saya tertegun melihat bacaan pertama dan Injil yang bertolak belakang. Bacaan pertama mengisahkan tentang nubuat tentang Yerusalem yang Baru, yang dipenuhi harapan baru karena Tuhan yang akan bertahta, sedangkan Bacaan Injil mengisahkan Tuhan yang berkata secara tersirat bahwa Ia akan disalib, sesuatu yang penuh akan penderitaan. Inilah gambaran kehidupan kita, ada peristiwa penuh harapan yang menyenangkan dan peristiwa yang menyedihkan.
Bacaan pertama, yang diambil dari Nubuat Zakharia, mengisahkan tentang penglihatan ketiga Nabi Zakharia. Penglihatan diawali dengan seseorang yang membawa tali pengukur untuk mengukur Yerusalem yang baru, sebelum akhirnya dicegah karena Tuhan sendiri yang akan bertahta di kota itu. Pandangan orang itu adalah dengan mengukur kota, ia dapat membuat tembok baru untuk memperluas Yerusalem. Kita tahu pada zaman dahulu, setiap kota pastilah bertembok untuk melindungi isi kota dari serangan musuh. Akan tetapi, Yesus tidaklah menginginkan tembok baru, karena di tempat ia bertahta tidak akan ada musuh. Ia menginginkan Yerusalem bebas dari tembok, sehingga semakin banyak orang dapat datang dan tinggal di Yerusalem. Tuhan akan menjadi tembok berapi di sekeliling Yerusalem, dan itu dapat mengingatkan kita pada tiang api yang membimbing umat Israel keluar dari perbudakan Mesir. Oleh karena itu, semua yang datang ke Yerusalem akan senantiasa berada di dalam perlindungan-Nya.
Bacaan Injil mengisahkan bahwa secara tersirat, Yesus menekankan bahwa Ia akan diserahkan kepada manusia melalui penyaliban. Pada saat itu, Yesus baru saja mengusir roh jahat setelah para murid tidak dapat mengusirnya. Mungkin inilah yang membuat para murid takut meskipun belum paham. Yesus ingin sekali supaya murid-Nya paham dan sadar bahwa mengikuti Yesus membutuhkan iman yang mendalam. Yesus telah merancang mereka menjadi penerus pewarta kasih Tuhan dan penekanan yang Yesus lakukan sesungguhnya menjadi bentuk kepedulian-Nya. Bila dihubungkan dengan bacaan pertama, peristiwa penyaliban menjadi jalan menuju kehidupan Yerusalem yang baru, kehidupan yang penuh harapan. Ia tidak ragu mengatakan bahwa ia harus menderita demi penyelamatan umat manusia.
Kita sering berada di posisi para murid yang diliputi keraguan dan ketakutan. Masih bingung, kok malah diam, bukannya berbicara. Sama seperti kalau di kelas, ditanya guru sudah paham, jawabnya sudah padahal belum. Alasannya macam-macam, entah karena takut ditanya balik, takut gurunya marah, takut dihukum maju ke depan. Padahal ketakutan itulah yang menghambat untuk maju. Demikian dengan kita. Ketika menghadapi pergumulan, hati kita sering kali kita tutupi sendiri dengan ego. Kita seolah cenderung menghindar dari pergumulan dengan memilih kesenangan duniawi yang fana. Mungkin kita berdoa, berbicara dengan Tuhan, tetapi yang keluar cenderung sumpah serapah dan rasa mengeluh saja dibandingkan daripada rasa syukur dan tobat.
Kalau direnungkan, penderitaan sebenarnya bisa menjadi jalan menuju keselamatan yang abadi. Tuhan membiarkan murid-Nya dahulu untuk melawan setan, maka Tuhan pun terkadang mengijinkan kita menghadapi pergumulan. Keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu pertumbuhan iman. Meskipun merasa gagal, janganlah berputus asa. Tuhan menginginkan kita untuk berbicara kepada-Nya melalui doa supaya kita mendapatkan pencerahan dan kekuatan untuk menghadapi masalah. Sama seperti batang pohon yang disayat untuk menghasilkan buah yang manis, demikian iman kita perlu disayat dengan pergumulan untuk menghasilkan kedalaman hati. Melalui iman, kita pun menyadari kemahakuasaan dan kemahabesaran Tuhan, supaya kelak kita akan bersama dengan Yesus menikmati kebahagiaan abadi di Surga.
Tuhan, ajarilah kami untuk mengimani Engkau, terutama ketika berada di dalam pergumulan hidup.
Komentar
Posting Komentar