Sentuhan Kasih 26 September 2021: Melawan Mentalitas Kepiting
HARI MINGGU BIASA XXVI
Bacaan Pertama: Bil 11:25-29
Mazmur: 19:8.10.12-13.14
Bacaan Kedua: Yak 5:1-6
Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17.6a
Bacaan Injil: Mrk 9:38-43.45.47-48
Mentalitas kepiting (crab mentality) adalah sebuah fenomena ketika seseorang merasa iri dan tidak mau melihat orang lain berhasil dan lebih berhasil darinya. Mengapa namanya kepiting? Karena jika kita melihat ada kumpulan kepiting di dalam keranjang dan ada kepiting yang ingin merangkak keluar, maka kepiting yang lain akan menarik kepiting itu untuk kembali berada di dalam. Orang yang mempunyai mentalitas ini sangat membahayakan karena dia mempunyai berbagai cara untuk menghambat kesuksesan seseorang, bisa melalui bujukan atau bahkan bullying, fitnah, dan bahkan mencelakakan orang lain. Bila teman-teman berada di dekat orang seperti itu, alangkah baik menghindar supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam bacaan pertama, Yosua berkata kepada Musa untuk mencegah Eldad dan Medad yang dikaruniai Roh oleh Tuhan atas dasar mereka bukanlah termasuk dalam tujuh puluh tua-tua terpilih yang pergi ke kemah. Akan tetapi Musa mencegahnya karena ini menjadi rahmat Tuhan yang akan memberikan keringanan tugas baginya untuk memimpin Bangsa Israel. Mungkin, maksud Yosua adalah mencegah hal-hal yang tidak diinginkan karena hal itu tidak ideal, tetapi secara tersirat daya Roh sesungguhnya dapat bekerja melampaui idealisme pikiran manusia.
Pola ini pun terjadi di dalam Injil. Bedanya, murid murid ingin mencegah orang non-pengikut Yesus untuk mengusir setan. Tuhan Yesus ingin memperbaharui konsep para murid bahwa kuasa kasih Yesus dapat mengalir kepada siapa saja tanpa memandang latar belakang. Yesus pun ingin mengingatkan para murid untuk tidak mudah tinggi hati terhadap status mereka sebagai pengikut Kristus dan menjadi batu sandungan bagi orang lain dengan mengajarkan konsep yang tidak tepat. Kata "penggal" dalam Injil seolah-olah keras dan kejam, tetapi yang dimaksud sebenarnya adalah perlunya pengendalian diri dan introspeksi untuk melihat segala sesuatu yang baik dan buruk, yang ideal dan tidak, yang biasa dan luar biasa di dalam hidup secara bijak.
Melawan mentalitas kepiting harus mendarah daging dalam hidup kita. Apabila ada seseorang yang terkenal jahat/berdosa sedang terdorong untuk bertobat dan berbuat baik, alangkah kita mendoakan dan ikut membangkitkan motivasinya supaya tetap berada di jalan kebenaran. Jika ada orang yang lebih sukses dari kita, tanamkan konsep bahwa ini adalah kesempatan bagus bagi dia untuk mau dipakai Tuhan demi kemuliaan nama-Nya dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi yang membutuhkan. Mari kita doakan dia supaya menggunakan kesempatan itu dengan baik.
Bacaan kedua menjadi pengingat kita akan bahaya kedagingan bagi diri sendiri dan bahkan bagi orang lain. Kita dapat mengingat perumpamaan pekerja di kebun anggur, bahwa semua pekerja mendapatkan upah harian langsung setelah bekerja. Bayangkan bila upah tidak dibayar, maka pekerja akan rugi karena harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Demikian juga crab mentality akan merugikan orang karena menghambat proses kemajuannya untuk dipakai oleh Tuhan.
Mentalitas kepiting biasanya terjadi karena orang memiliki rasa rendah diri, dan apa yang dia punya atau segala kedagingan pun bisa menjadi faktor pendukung. Lebih mengerikan ketika kedagingan dibungkus dengan nama kelompok atau institusi rohani. Contohnya, ketika kita bergabung dan menjadi petugas atau petinggi dalam sebuah kelompok doa, kemudian kita menganggap rendah karya dan pelayanan anggota yang lain, seolah-olah kita sendiri yang terbaik. Belum lagi kalau kita saling sikut sesama anggota dengan fitnah dan kontak fisik, bahkan sampai mengancam keberadaan komunitas doa kita, bukankah mengerikan?
Tuhan, ajari kami mensyukuri keterlibatan dan anugerah-Mu pada diri kami dan orang lain, supaya kami semua turut merasakan kebahagiaan kasih-Mu dan nama-Mu semakin dimuliakan di dalam kehidupan ini.
Komentar
Posting Komentar