Sentuhan Kasih 27 September 2021: Yang Dilayani Pun Bisa Melayani

PW St. Vinsensius A Paulo, Imam

Bacaan Pertama: Za 8:1-8
Mazmur: Mzm 102:16-18.19-21.29.22-23
Bacaan Injil: Luk 9:46-50

"Tidaklah cukup bagiku untuk mengasihi Tuhan jika aku tidak mengasihi sesamaku. Aku ini milik Tuhan dan milik kaum miskin." (St. Vinsensius A Paulo)

Santo Vinsensius A Paulo (1581-1660) adalah seorang imam yang berasal dari Perancis dan dikenal karena menjalin kedekatan hubungan dengan orang-orang yang miskin. Ia ditahbiskan menjadi imam pada usia 19 tahun dan pernah diculik oleh bajak laut dan menjadi budak di Tunisia pada 1605-1607. Sekembalinya ke Perancis, ia diberi jabatan untuk hidup dengan nyaman sebagai guru bagi anak-anak orang kaya. Pada suatu waktu, Santo Vinsensius mempersembahkan Sakramen Tobat bagi orang-orang miskin. Ia menyadari bahwa betapa kelamnya pengakuan dosa yang telah dibuat mereka, sehingga Ia memutuskan untuk melayani orang-orang miskin. Ia berkhotbah kepada orang miskin dan memberi perhatian bagi narapidana yang bekerja di kapal pelayaran. Pelayanan St. Vinsensius berkembang dan mendorong berdirinya Kongregasi Misi (CM) yang anggotanya dikenal sebagai Vinsensian/Lazaris. Bersama St. Louise de Marillac (1591-1660), ia membentuk Kongregasi Suster-Suster Puteri Kasih (PK). Ia pun juga mendirikan Rumah Sakit, wisma anak yatim-piatu, dan wisma lansia. 

Meskipun telah meninggal, nilai-nilai Vinsensian tetap bertahan sepanjang waktu, dan memberi inspirasi bagi seorang pengacara dan advokat Perancis, Beato Frederic Ozanam (1813-1853) untuk membentuk Serikat Sosial Vinsensius (SSV). Latar belakang pendirian SSV ini menarik, karena suatu ketika Beato Frederic berdebat dengan temannya tentang kebenaran gereja Katolik. Ada satu isu yang ditanyakan temannya, yaitu "Apa yang dilakukan gerejamu sekarang? Apakah yang ia lakukan untuk orang miskin di Paris? Tunjukkan dan kami akan mempercayaimu!" Ia pun akhirnya menjawab pertanyaan itu dengan mendirikan SSV.

Sistem dunia ini cenderung memaksa orang untuk lebih fokus pada diri sendiri untuk meningkatkan harta, jabatan, dan harga diri. Dengan pemikiran seperti itu, membantu orang miskin sama saja dengan rela kehilangan harta benda, waktu, dan tenaga. Banyak orang yang terlalu fokus dengan dirinya sendiri sehingga lupa bagaimana cara untuk peduli yang sesungguhnya. Banyak juga orang yang hanya mendoakan, share, like, dan comment semoga ini dan itu, tetapi tidak terdorong untuk melakukan aksi nyata. Lebih miris, ada oknum yang memanfaatkan kepedulian dengan meminta sumbangan hanya untuk meningkatkan pundi-pundinya.

Bacaan pertama mengisahkan penglihatan Zakharia akan berkat yang dicurahkan Tuhan bagi Yerusalem. Di sana terlihat ada kelompok kakek-nenek dan kelompok anak-anak yang keduanya berbeda, namun digambarkan harmonis dengan kedudukan yang sama. Ini menggambarkan bahwa Tuhan berkuasa tidak hanya bagi satu golongan, tetapi bagi semua golongan. Kakek-nenek dan anak kecil, yang secara tersirat pada Bacaan Injil dikatakan sederhana dan tidak berdaya pun dilindungi oleh Tuhan. Ketika hidup, sudah sepantasnya kita hadir bagi orang yang tidak berdaya. Tuhan bisa menghadirkan diri-Nya lewat orang miskin dengan tangisan kepedihan, wajah sendu yang kosong, badan yang menahan lapar, pikiran yang gelisah, dan hati yang terluka. Kita pun bisa menjadi wajah Allah yang memberi harapan dan bantuan bagi mereka.

Tuhan ingin mengubah pemikiran ideal Yohanes tentang murid dan bukan murid Yesus. Hal ini terjadi pada teman-teman saya yang bergabung dalam Komunitas Sant'Egidio (komunitas pelayanan orang miskin). Saat itu, mereka bercerita bahwa pemikiran mereka adalah mereka hadir untuk memberi bagi orang miskin. Akan tetapi, setelah melayani sekian lama, muncul pemikiran baru bahwa justru orang miskinlah yang hadir untuk memberi bagi mereka. Orang miskin hadir sebagai tempat berbagi cerita, sebagai pemberi semangat di kala putus asa, dan sebagainya. Mungkin mereka berkekurangan secara harta, tetapi hati mereka jauh lebih berharga dari pada berlian. Melayani dapat menjadi pendobrak pemikiran bahwa orang miskin pun bisa berbagi melalui apa yang mungkin kita tidak bayangkan.

N.B.: Mohon maaf apabila ada ketidaknyamanan karena pemilihan kata "orang miskin" karena kata ini digunakan untuk memudahkan penulisan supaya tidak terlalu panjang dan membingungkan.

Tuhan, jadikanlah kami perpanjangan tangan-Mu bagi sesama yang membutuhkan, dan mampukanlah kami untuk melihat wajah-Mu dalam diri mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Doa Katolik Untuk Menghadapi Kekuatan Jahat

Kumpulan Doa Katolik Untuk Beberapa Intensi

Doa Memorare (Ingatlah, ya Perawan Maria)