Sentuhan Kasih 30 September 2021: Komunitas Allah
PW Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Neh 8:1-5.6-7.8-13
Mazmur: Mzm 19:8.9.10.11
Bacaan Injil: Luk 10:1-12
"Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus" - Santo Hieronimus
Santo Hieronimus (342/347-420) adalah salah satu Pujangga Gereja yang dikenal sebagai penerjemah Alkitab dari Bahasa Aram/Ibrani (Perjanjian Lama) dan Bahasa Yunani (Perjanjian Baru) menjadi Bahasa Latin, yang dikenal sebagai Vulgata, yang berarti populer. Dididik secara Kristiani oleh keluarga, Hieronimus pun mencicipi budaya penuh kedagingan pada saat belajar hukum dan filsafat di Roma. Pada akhirnya, beliau bertobat dan dibaptis oleh Paus Liberius. Ia berangkat untuk meminta bimbingan Uskup Valerianus, sebelum pergi ke Anthiokia dan bertapa di sana. Hieronimus pun hidup di gurun untuk berdoa, berpuasa, dan belajar bahasa Ibrani dan Yunani. Setelah ditahbiskan jadi imam pada tahun 379, ia berangkat menimba pengalaman St. Gregorius dari Nazianze di Konstantinopel. Paus Damasus I mengangkat Hieronimus sebagai sekretaris pribadi di Roma dan ditugaskan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Latin. Tugas itu pun dijalaninya dengan kesungguhan hati. Ia pun pindah ke Bethlehem dan bekerja di sana untuk menghasilkan Vulgata. Meskipun tidak setuju dengan Kitab Deuterokanonika, Hieronimus tetap tunduk pada Magisterium (ajaran Paus) dengan memasukkan terjemahannya ke dalam Vulgata.
Bacaan pertama mengisahkan tentang Ezra, imam dan ahli kitab, yang sedang membacakan Hukum Taurat di depan banyak orang yang berkumpul di Gerbang Air pada Hari Raya Pondok Daun. Beberapa ahli memiliki pendapat bahwa orang Lewi di samping Ezra membantu menerjemahkan Hukum Taurat berbahasa Ibrani menjadi bahasa Aram, bahasa sehari-hari komunitas. Mengapa orang-orang menangis? Karena pada saat itu telah terjadi Restorasi Yerusalem setelah Bangsa Israel pulang dari pembuangan. Mereka menyadari kegagalan mereka sebagai bangsa Israel, tetapi Ezra menekankan untuk tidak melihat Hukum Taurat sebagai sumber penghukuman, melainkan sebagai sumber kehidupan. Semua orang pun akhirnya berbahagia dan berpesta karena mereka telah mengerti maksud dari hukum tersebut. Secara tersirat, penulisan kitab ini pun memang menitikberatkan pada peranan komunitas, terbukti dari disebutkannya siapa saja yang mendengarkan surat ini dan apa saja yang mereka lakukan.
Bacaan Injil menekankan tentang perutusan Tuhan Yesus kepada tujuh puluh murid untuk mendahului Dia mewartakan Sabda Allah. Mendahului Dia berarti kita mempersiapkan jalan bagi Allah untuk meraja dalam hidup orang lain, bukan untuk mewartakan diri sendiri. Tuhan pun meminta kepada para Murid untuk berdoa supaya "pekerja" semakin banyak. Pekerja itu adalah orang-orang yang melaksanakan dan mewartakan Sabda Allah. Bayangkan, jika pekerja semakin banyak, bukankah hasil "panenan" pun menjadi lebih banyak? Semakin banyak pewarta Sabda Allah, maka kehidupan di dunia ini akan penuh dengan limpahan kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Tuhan mengutus muridnya bukan ke tempat yang nyaman, melainkan ke tempat penuh tantangan. Ada orang yang menolak para murid, ada yang menerima sehingga Kerajaan Allah telah ada di dekatnya.
Komunitas Bangsa Israel yang berkumpul di Gerbang Air dapat menyadarkan kita akan pentingnya hidup berkomunitas, baik di gereja, lingkungan, wilayah, devosi, kategorial, dan lain sebagainya. Di dalam komunitas, kita diajak untuk bersama-sama mendengarkan Sabda Allah baik melalui Alkitab mau pun kehadiran Allah di dalam pengalaman hidup orang lain. Setelah itu, kita diajak untuk merenungkan dan mengolah Sabda Allah itu supaya berbuah menjadi perbuatan-perbuatan baik bagi sesama. Perlu diingat bahwa perbuatan kasih bukanlah untuk meraih kemenangan duniawi seperti ketenaran dan uang, melainkan untuk meraih kemuliaan surgawi, kemuliaan Tuhan, yang ditandai dengan buah-buah Roh Kudus - kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Mari memohon bantuan rahmat Roh Kudus untuk membimbing kita dalam memahami dan menghidupi Sabda Allah di dalam kehidupan ini.
Santo Hieronimus, doakanlah kami untuk semakin mencintai dan memahami Sabda Allah di dalam kehidupan kami, sehingga kami turut merasakan sukacita menjadi pekerja untuk melakukan perbuatan baik kepada sesama.
Komentar
Posting Komentar