Sentuhan Kasih 3 Oktober 2021: Satu Sebagai Citra-Nya
Pekan Biasa XXVII
Bacaan Pertama: Kej 2:18-24
Mazmur: Mzm 128:1-2.3.4-5.6
Bacaan Kedua: Ibr 2:9-11
Ayat BPI: 1Yoh 4:12
Bacaan Injil: Mrk 10:2-16
REFLEKSI BACAAN
Pandemi Virus Covid-19 ternyata tidak hanya memberikan dampak terhadap permasalahan kesehatan, tetapi juga peningkatan jumlah kasus perceraian di beberapa negara. Pada awalnya, banyak yang menganggap lockdown bisa memberikan keleluasaan pasangan suami istri untuk menjalin hubungan yang lebih intens. Akan tetapi, beberapa faktor seperti stres, khawatir, dan merasa kehilangan kebebasan. Kehilangan kebebasan? Ya! Banyak pasutri sering merasa stres karena baru memahami perbedaan dengan pasangannya pada saat setelah menikah. Sehingga untuk menghindari perselisihan, mereka melampiaskan pada kegiatan bersama teman atau pergi sendirian. Bayangkan, karena lockdown, mereka harus bertemu setiap hari dengan pasangan. Karena belum dapat menerima perbedaan, pasutri mengalami kesulitan berkomunikasi dengan baik pada pasangannya. Salah komunikasi, maka bentrok pun tidak terhindarkan, dan berujung pada perceraian. Apa yang dialami saudara kita tersebut patut disayangkan, karena memang bertentangan dengan apa yang Tuhan inginkan.
Pada bacaan hari ini, Yesus menegaskan bahwa perceraian adalah sesuatu yang tidak dikehendaki Allah. Hal ini disebabkan sejak kisah penciptaan, Allah mempunyai rencana indah untuk menyempurnakan kita sebagai citra-Nya. Allah ingin menggambarkan bagaimana kesatuan Tritunggal bisa dirasakan dan dihayati dalam pikiran dan kehendak hati manusia dengan membentuk hubungan suami istri. Penciptaan Hawa melalui bagian tubuh Adam menggambarkan kesetaraan posisi suami dengan istri, bahwa suami dan istri sama-sama setara dan memiliki peranan penting dalam membentuk kesatuan ikatan perkawinan. Istri yang baik adalah istri yang menaati suami dan memberi dukungan kepada suami. Lalu, bagaimana dengan tugas suami?
Mari sejenak kita lihat pada Perjanjian Lama. Beberapa teks mengungkapkan bahwa Yerusalem dianggap sebagai istri. Hal ini mengungkapkan betapa besarnya kasih Allah pada umat Israel pilihannya. Kemudian Yesus hadir dalam bentuk fisik untuk menyelamatkan umat-Nya. Tidak tanggung-tanggung, Ia rela mengorbankan diri untuk disalib. Kita, yang anggap saja sebagai istri Allah, telah diselamatkan oleh-Nya, menjadi umat-Nya yang kudus. Oleh karena itu, dalam hubungan keluarga, para suami harus senantiasa mengasihi dan berkorban untuk istrinya, dengan bekerja keras dan mengarahkan keluarga pada kekudusan.
Kembali pada Injil, Yesus menggunakan anak kecil sebagai lambang bagaimana seseorang harus menerima Kerajaan Allah. Anak kecil adalah orang yang tidak berdaya, yang menerima semua yang didapat dari orangtuanya sebagai anugerah. Maka, Yesus ingin menegaskan pentingnya kita untuk menerima anugerah Allah sepenuhnya, termasuk menerima kelemahan kita, kelemahan pasangan kita, atau bahkan siapa pun. Kalau ada perbuatan orang lain yang tidak sesuai dengan prinsip kebenaran, mari kita menegurnya dengan baik. Apabila masih kesulitan karena terbawa emosi, kita dapat memohon rahmat pengendalian diri kepada Tuhan secara terus menerus.
Mari jadikan perbedaan di antara kita sebagai sarana untuk menghargai satu sama lain, untuk mewujudkan kedamaian hati di mana pun kita berada, bagai kedamaian di dalam kesatuan Allah Tritunggal.
DOA
Tuhan, terima kasih atas segala anugerah-Mu yang indah bagi kami. Kiranya Engkau menjadikan kami sebagai orang yang mau menerima perbedaan dengan sesama kami sepenuhnya, menghargai perbedaan itu sebagai anugerah-Mu yang sangat indah, supaya hati ini menjadi damai.
Komentar
Posting Komentar