Belajar Melayani
Seorang kenalanku, yang juga merupakan seorang pelayan dan pewarta pernah berkata, "Kalau kamu ternyata dipanggil untuk melayani dalam lingkungan sekecil apa pun dan di mana pun, tetap lakukan dengan sepenuh hati. Kalau dipanggil untuk melayani di tingkat keluarga atau RT, RW, tetap jalani setiap tugas yang diberikan dengan sukacita." Setulus hati aku maknai sebagai lepasnya keterikatan diri dari sesuatu yang diharapkan. Melayani karena aku dicintai oleh Allah, bukan untuk mendapat pengakuan atau hadiah. Untuk menyadari hal ini, penting sekali untuk membangun komunikasi dengan Tuhan (doa, membaca kitab suci, ibadat, sakramen).
Menjadi penting bahwa dasar dalam pelayanan adalah untuk kemuliaan nama Tuhan yang lebih besar. Ad Maiorem Dei Gloriam (bukan Ad Maiorem Diri Gue), supaya kasih Allah benar-benar nyata pada setiap orang dan kita menjadi salah satu penyalur kasih-Nya.
Seorang teman pernah berkata, malah terkadang melayani itu bukan untuk mendapatkan sesuatu, melainkan berani berkorban kenyamanan, tenaga, waktu, bahkan uang untuk melayani yang dikasihi. Benar juga, ya. Kasih itu kan artinya memberi, bukan mendapatkan.
Memiliki sifat tekun juga sangat penting dalam melayani. Pasang surut semangat itu wajar. Kita boleh saja stop sejenak dan mencari tahu apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Apakah karena tubuh dan jiwa sedang kelelahan dan butuh di-charge, apakah ada luka batin yang harus disadari dan disembuhkan, tetapi bisa juga apakah karena tergoda akan keuntungan dan kenyamanan diri. Terutama yang ini, aku masih terus belajar untuk melakukan pembedaan roh (discernment), karena karena bedanya tipis sekali.
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. Semangat melayani di mana pun kita berada. Tuhan memberkati!

Komentar
Posting Komentar