Santo Yusuf, Teladan Kita

Berdasarkan survei kecil-kecilan, kebanyakan gereja menempatkan patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus masing-masing di sisi kiri dan kanan altar. Namun tidak dengan beberapa paroki yang dinaungi ordo MSF (Misionaris Keluarga Kudus), yang menempatkan Patung Keluarga Kudus untuk "melengkapi" Bunda Maria, termasuk di gerejaku. Setiap kali ada penerimaan Sakramen Perkawinan, pasutri diarahkan untuk berdoa di depan Patung Keluarga Kudus, sehingga doa tidak hanya spesifik diarahkan kepada Bunda Maria, tetapi juga kepada Santo Yusuf. Lagu yang digunakan untuk mengiringi perarakan menuju patung bukanlah Ave Maria yang biasa digunakan di gereja lain, melainkan Hymne Keluarga Kudus.
Dalam salah satu seminar yang dibawakan oleh Romo MSF, dijelaskan bahwa peran Bapak dalam bangsa Yahudi itu sangat penting. Biasanya Ibu mengasuh hingga usia 4-5 tahun, lalu Bapak mengambil alih tanggung jawab untuk mendidik anak, baik pendidikan moral, praktis, maupun keagamaan. Santo Yusuf, (yang namanya berarti "Tuhan menumbuhkan") dengan kecermatan dan kerendahan hatinya telah berhasil "menumbuhkan" atau mendidik Yesus dalam rupa manusia. Mungkin itulah mengapa Patung Keluarga Kudus ditempatkan di sana, supaya setiap umat semakin menyadari bahwa Santo Yusuf juga memiliki peran yang sangat penting sehingga mengapa Yesus kecil dalam rupa manusia dapat bertumbuh menjadi Yesus yang berkarya dan mengapa Keluarga Kudus dapat menjadi Keluarga Kudus.
Ketika aku melihat Santo Yusuf pada Patung Keluarga Kudus di gerejaku, aku melihat tangan yang terbuka akan kasih Bapa, tangan orang berserah yang siap menyambut apa yang dianugerahkan dan ditugaskan Allah kepadanya. Ia berdiri di belakang, bukan sebagai tanda keangkuhan, tetapi supaya ia dengan sigap dapat melindungi Bunda Maria dan Yesus kecil, mengetahui apa bahaya yang mengintai di sekeliling mereka. Wajahnya penuh senyum dan memancarkan kasih, sebagaimana ia hidup sebagai citra Allah. Sungguh Santo Yusuf menjadi teladan siapa saja, terutama Bapak dan calon Bapak.
Dua tahun yang lalu, lingkaran nimbus "dengan fitur lampu kuning yang terang" ditambahkan pada patung di gerejaku menggantikan "nimbus biasa". Patung Keluarga Kudus pun jadi tambah cantik. Nimbus tetap menyala di malam hari, ketika lampu utama gereja dimatikan. Meskipun remang-remang, sinarnya terpancar hingga ke ujung ruangan gereja. Ketika aku merenungkan hal ini, aku merasa ada yang menarik, ketika sumber cahaya itu tidak hanya berasal dari nimbus Yesus, tetapi Bunda Maria dan Santo Yusuf. Aku merasakan bahwa di tengah kegelapan dunia, Santo Yusuf (bersama Yesus dan Bunda Maria) pun hadir dengan terangnya untuk mendoakan kita yang sedang berziarah dan juga yang berdoa kepada Yesus melalui perantaraannya. Santo Yusuf, doakanlah dan lindungilah kami.
Komentar
Posting Komentar